crème de la crème

“Apa bedanya orde baru dan reformasi? orde baru penguasanya Soeharto, reformasi penguasanya Habib R.”
— Sorry, just saying. T
“Tanda-tanda kiamat itu bukan LGBT merajalela, tapi orang-orang yang melakukan kekerasan atas nama Tuhan”
— Seseorang
“Kenapa LGBT selalu jadi warga negara kelas dua? Kumpul-kumpul sedikit aja langsung diseruduk FPI. Heran deh! Mereka nggak dianggap sebagai warga negara gitu?”
— Aku
“Kamu selalu menjadi karya sempurna yang hanya bisa kuamati dari balik kaca. Semoga suatu hari nanti aku bisa membawamu pulang ke rumah kita :’)”
— Tyas We
“Paket Memalukan”

tadi sore saya lihat di infotaiment yang sedang mengusung hari buruh sebagai tema, dan mereka juga bahas tentang TKI. mereka membahas TKI yang katanya pahlawan devisa dan segala ke-ironis-an-nya.

dari yang saya tangkap menurut logika sederhana saya, intinya mereka memberi kesan kalau mereka menyayangkan dan prihatin banget gitu ya sama nasib TKI.

tapi, bukan itu yang menarik perhatian saya. waktu acara ini baru mulai, ada kalimat yang mengganggu teliga saya.

“Baru-baru ini indonesia mendapat paket memalukan dari negeri jiran” kalau gak salah gitu kalimatnya, tapi intinya ya begitu.

dan apa yang dimaksud dengan “paket memalukan”?

yang dimaksud adalah tiga jenazah TKI yang meninggal di malaysia itu.

sekali lagi saya ulangi, “Paket Memalukan”

saya memang bukan penulis atau ahli di bidang bahasa. tapi saya rasa scriptwriter dari tayangan ini harus banyak belajar tentang diksi. bagaimana memilih kosakata yang baik supaya gak menyinggung.

gila ya, jenazah dibilang paket memalukan.

coba scriptwriter bayangkan, keluarga anda meninggal di luar negeri, lalu ketika jenazahnya dibawa pulang ke kampung halaman, ada sekelompok orang gak tahu apa-apa bilang jenazahnya adalah paket memalukan. tersinggung gak? kalau gak tersinggung, mungkin anda bebal.

semoga suatu saat jenazah saya, kamu, dan kalian-kalian semua, gak disebut “paket memalukan” amin.

-Tyas We-

“Jejak itu masih ada, terlalu dalam sampai tak bisa menutupnya.”
— Tyas We
“Bayat aku, aku ingin terikat dalam perhimpunan. Dan rumah kita adalah sekretariatnya.”
— Tyas We
pernah seperti ini :’)

pernah seperti ini :’)

Kau pernah bilang : “Kami sudah terikat benang merah, sejauh apapun kami terpisah, pasti akan bertemu kembali dalam satu takdir.”
Lalu kubilang dalam hati : “Jika benang merah itu nyata, akan kuputuskan segera!”

Kau pernah bilang : “Kami sudah terikat benang merah, sejauh apapun kami terpisah, pasti akan bertemu kembali dalam satu takdir.”

Lalu kubilang dalam hati : “Jika benang merah itu nyata, akan kuputuskan segera!”


Negeri 5 Cemara #KantorGeologi #Skypic

Negeri 5 Cemara #KantorGeologi #Skypic